Showing posts with label Psikologi individu. Show all posts
Showing posts with label Psikologi individu. Show all posts

Wednesday, July 4, 2012

Pembahasan
1. Pengertian Jiwa
Dalam permasalahan ini al ghazali tidak banyak menyimpang dari apa yang telah digariskan oleh al- farabi, terutama ibnu sina. Menurut al – ghazali yakni jiwa dibagi menjadi 3 jenis jiwa yaitu :
a) Jiwa nabatiyyah adalah kesempurnaan awal bagi jisim alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan jenisnya. 
b) Jiwa hayawaniyyah adalah kesempurnaan awal bagi jisim alami yang organis dari segi mengetahui hal-hal yang kecil dan bergerak dengan iradah.
c) Jiwa insaniyyah adalah kesempurnaan awal bagi jisim alami yang organis dari segi melakukan perbuatan dengan ikhtiar akali dan istimbat dengan pikiran, dan dari segi mengetahui hal-hal yang umum.
Jiwa bagi al- ghazali adalah suatu zat(jauhar) dan bukan suatu keadaan atau aksiden (ardh). Jasad adanya bergantung pada jiwa bukan sebaliknya. Bagi al-ghazali jiwa yang berasal dari ilahi mempunyai potensi kodrat, yaitu kecenduerungannya dan keengganan kepada kekejian. Karena itu, kecenderungan jiwa kepada kejahatan (yang timbul setelah hadirnya nafsu) bertentangan dengan tabiat aslinya.
2. Hubungan Jiwa Dengan Jasad
Adapun hubungan jiwa dan jasad dari segi pandangan moral adalah setiap jiwa diberi jasad, sehingga dengan bantuanya jiwa bisa mendapatkan bekal bagi hidup kekalnya.karena jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat baginya untuk mencari bekal dan kesempurnaan karena jasad sangat diperlukan oleh jiwa  maka ia harus dirawat baik-baik. Dalam bahasa sederhananya menurut al-ghazali kedudukan jiwa dalam jasad bagaikan kedudukan  walikota dalam kota prajanya.
Semua yang ada pada jasad merupakan “pembantu jiwa” sebagian pembantu jiwa itu yang nyata ialah seperti tangan, kaki, bagian-bagian tubuh luar dan dalam yang lain. Adapun pembantu lain yang tidak terlihat dan dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu :
a) Sumber bagi motif dan rangsangan yaitu : motif untuk mendapatkan yang bermanfaat disebut keinginan, dan  motif untuk menolak yang merusak dinamakan kemarahan
b) Kekuatan yang menggerakkan anggota badan ke arah benda yang diinginkan atau menjuhi benda yang dibenci yaitu : menyebar pada semua anggota tubuh khususnya pada otak dan syaraf.
c) Kemampuan menangkap pengetahuan yang terdiri dari dua macam alat yaitu : yang pertama ialah panca indera dan yang kedua ialah lima daya yang berada pada lima tempat di otak manusia.yakni daya khayal yaitu penggambaran atau representasi, daya simpan atau retensi, daya fikir, daya ingat, sensus communis (al-hiss al-musytarak). Semua indera dan daya ini juga ditemukan pada hewan-hewan. Adapun daya yang khas pada amnusia yaitu daya pencapai pengetahuan, yakni akal. Akal mengetahui kenyataan-kenyataan didunia ini dan di akhirat yang tak dapat ditangkap oleh indera. 
3. Keabadian Jiwa 
Dalam masalah keabadian jiwa tidak ada pebedaan pendapat dalam kalangan umat islam. Namun demikian al-ghazali telah mengemukakan dua dalil tentang keabadian jiwa yaitu dalil syar’i dan dalil akal.
Adapun dalil syar’i antara lain firman allah yang artinya “janganlah u mengira orang-orang yang terbunuh di jalan allah itu mati, tetapi mereka hidup, mendapat rezeki dari tuhanya dengan karunia yang diberikan-Nya kepada mereka”. Dan ajaran islam tentang “ampunan” dan “rahmat” hanya bagin orang yang kekal, tidak bagi yang fana. Dengan demikian pula sedekah yang diberikan dan doa yang diminta untuk yang telah meninggal termasuk dalam hal-hal yang telah menjadi aqidah umat islam bahwa jiwa itu kekal setelah berpisah denganm jasad.
Adapun dalil akal, maka pada umumnya al-ghazali mengambil dari ibnu sina antara lain :
Ø Ketunggalan jiwa . kata al-ghazali kefanaan itu adalah terurainya apa yang tadinya tersusun. Oleh karena itu jiwa pada hakikatnya tunggal, tidak terdiri unsur-unsur, maka tentunya tidak terurai, sehingga ia tidak fana tapi kekal.
Ø Kebebasan jiwa dari jasad. Dalil ini didasarkan pada hubungan jiwa dengan jasad. Hubungan ini kata al-ghazali bukan hubungan kemestian dan bukan pula hubungan sebab- akibat, sehingga tidak mesti jika jasad rusak maka jiwa juga harus rusak. Jasad sudah nyata rusaknya, sedangkan jiwa adalah jauhar rohani, bukan materi dan forma, sehingga ia tidak mungkin rusak, karena rusak itu bukan sifatnya.
4. Daya-daya Jiwa
Menurut al-ghazali pembagian jiwa yang meliputi : jiwa nabatiyyah, jiwa hayawaniyyah dan jiwa insaniyyah. Bahwasanya jiwa hayawaniyyah mempunyai dua daya yaitu :
1) Daya penggerak (al-quwwah al-muharrikah)
Daya ini merupakan dorongan untuk bergerak terhadap hal-hal yang dirindui, sehingga dilakukanya, atau terhadap hal-hal yang tidak disenangi atau ditakuti, sehingga dijauhinya. Jadi dalam daya ini terdapat dua hal yakni : dorongan dan gerak untuk berbuat.
2) Daya mengetahui (al-quwwah al-mudrikah) 
Dalam daya ini ada dua bagian yaitu: daya lahir dan daya batin. Daya yang lahir adalah panca indera, yaitu pendengaran, penglihatan,ciuman, rasa, sentuhan.dan yang batin adalah khayal, tafakkur, hafalan, ingatan dan waham.
Semua daya ini terdapat pada hewan dan manusia kecuali daya tafakkur yang hanya terdapat pada manusia saja.kemudian al-ghazali daya jiwa manusia dalam bentuk lain, atas pertimbangan bahwa sifat itu mengetahui hal-hal yang gaib. Dengan demikian jiwa memiliki dua daya yaitu : daya amali yang merupakan dasar penggerak bagi jasad manusia untuk melakukan ketrampilan, dan daya teori yang merupakan daya mengetahui hakikat ilmu yang abstrak, yaitu akal. Dengan daya ini orang menerima ilmu pengetahuan dari malaikat.
Penutup
Kesimpulan 
Jadi definisi jiwa menurut pemikiran al-ghazali ialah kesempurnaan awal bagi jisim alami yang orgsnis baik dari sisi nabatiyyah, hayawaniyyah, dan insaniyyah. Dan jiwa disini, mempunyai kemampuan memahami, sehingga segala perbuatan manusia didunia membawa makna dalam kehidupan manusia.
Jiwa menurut al-ghazali mempunyai daya-daya jiwa, daya-daya jiwa disini dibagi menjadi dua daya yaitu :
1) Daya penggerak yaitu : Dorongan dan gerak untuk berbuat.
2) Daya mengetahui yaitu  daya lahir dan batin.

DAFTAR PUSTAKA
 Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat, Jakarta: PT.Bulan Bintang, 1989
Nasution, Hasyimsyah.  Filsafat Islam, Jakarta:Gaya Media Pratama, 1999

Sunday, June 24, 2012

SYIFAUL UMMAH....(Tugas Psikologi) individu


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendekatan  Antroposentrik adalah pendekatan yang terpusat pada manusia. Manusia bukan saja merupakan makhluk sosial, yaitu makhluk yang harus hidup dengan sesamanya dan selalu membutuhkan kerjasama dengan sesamanya, tetapi lebih dari itu manusia juga mempunyai kepekaan sosial. Kepekaan sosial berarti kemampuan untuk menyesuaikan tingkah laku dengan harapan dan pandangan orang lain.
Pendekatan fungsional adalah pendekatan yang melihat bagaimana seseorang itu cara beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam dua cara yakni Asimilasi dan Akomodasi, Asimilasi merupakan proses penyesuaian lingkungan yang sudah ada dan mencocokannya kepada manusia itu sendiri. Sedangkan akomodasi, organisasi memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya.
Pendekatan saintifik adalah saintifik adalah pendekatan dengan cara memahami aspek perilaku tertentu, yang dapat dipakai untuk menjelaskan semua prilakunya, dengan cara melakukan penelitian dan pengamatan.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendekatan Antroposentris
Pengertian Antroposentris itu adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta.[1] suatu kebijakan dan tindakan yang baik dalam kaitan dengan lingkungan hidup akan dinilai baik kalau mempunyai dampak yang menguntungkan bagi kepentingan manusia.
Pendekatan antroposentris ini memusat pada manusia, kita melihat bahwa tiap pendekatan kepri badian memiliki filosofi interistik hakikat manusia.
        Manusia bukan saja merupakan makhluk sosial, yaitu makhluk yang harus hidup dengan sesamanya dan selalu membutuhkan kerjasama dengan sesamanya, tetapi lebih dari itu manusia juga mempunyai kepekaan sosial. Kepekaan sosial berarti kemampuan untuk menyesuaikan tingkah laku dengan harapan dan pandangan orang lain. Contohnya: seseorang akan berbeda kalau menghadapi orang yang sedang marah, gembira, sedih.
        Allah telah menciptakan potensi kehidupan pada diri manusia, yang berupa naluri:
·         Naluri beragama
 Naluri ini mendorong manusia untuk mensucikan sesuatu yang mereka anggap sebagai wujud dari Sang Pencipta, maka dari itu dalam diri  manusia ada kecenderungan untuk beribadah kepada Allah.
Namun tidak semua manusia itu menyembah atau beribadah kepada Allah, ada seseorang itu yang musyrik atau tidak mengakui adanya tuhan.
·         Naluri mempertahankan diri
Naluri ini mendorong manusia untuk melaksanakan berbagai aktifitas dalam rangka melestarikan kelangsungan hidup. Berdasarkan hal ini maka pada diri manusia ada rasa takut, keinginan menguasai.



·         Naluri melangsungkan keturunan
Naluri ini mendorong manusia untuk melangsungkan jenis manusia, manusia memiliki kecenderungan seksual, rasa cinta pada tiap-tiap pasangannya.[2]

B.     Pendekatan Fungsional.
Pengertian fungsional adalah penyesuaian diri sebagai proses untuk mempertemukan tuntunan diri sendiri dan lingkungannya.
Contoh: Seorang pedesaan hidupnya lebih sopan dan lebih santun dibandingkan dengan orang kota, karena mayoritas orang desa hidupnya paguyuban atau patembayan, sedangkan orang kota hidupnya pasundan atau individual.
        Pendekatan fungsional adalah melihat bagaimana seseorang itu cara beradaptasi dengan lingkungannya.
Contohnya: Didalam rumah tangga ada ayah, ibu dan 6 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, dilihat dari adaptasinya anak perempuan itu cenderung bertingkah seperti laki-laki karena terpengaruh oleh lingkungan keluarganya yang dominan laki-laki.
        Penyesuaian diri didefinisikan sebagai proses usaha untuk mempertemukan tuntunan diri sendiri dan lingkungan.[3]
        Jean piaget dalam teori perkembangan kognitif menerangan bahwa adaptasi biologi terhadap lingkungan merupakan bagian dari intelegensi seseorang. Ada tiga aspek intelegensi yang dikemukakan oleh Piaget yaitu aspek stuktur, struktur dan organisasi terhadap lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam dua cara yakni Asimilasi dan Akomodasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yang sudah ada, dapat dikatakan bahkan asimilasi merupakan proses penyesuaian lingkungan yang sudah ada dan mencocokannya kepada manusia itu sendiri. Sedangkan akomodasi, organisasi memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. Jadi dapat dikatakan bahwa proses akomodasi merupakan proses  penyesuaian diri manusia itu sendiri kepada lingkungannya.[4]

C.     Pendekatan Saintifik
Sains adalah ilmu pengetahuan yang dipakai sebagai kata kolektif untuk menunjukkan bermacam-macam pengetahuan yang sistematis dan obyektif serta dapat diteliti kebenarannya.
Saintifik adalah bentuk dari sains, menurut ilmu pengetahuan.
        Pendekatan saintifik adalah pendekatan dengan cara memahami aspek perilaku tertentu, yang dapat dipakai untuk menjelaskan semua prilakunya.
Contohnya: Ada seseorang yang terdiam dan merenung, dilihat dari pendekatan filosofisnya mungkin dia mempunyai gangguan pada jiwanya. Kalau dilihat dari pendekatan fisiologis mungkin dia sedang tidak enak badan. Kalau dilihat dari pendekatan antroposentrisnya mungkin dia dilihat dari naluri biologisnya  dia belum makan sehingga merasakan lapar dan lemas. Kalau dilihat dari pendekatanfungsional
 mungkin dia mengalami  masalah di rumah dengan keluarga sehingga tempat itu digunakan pelarian untuk merenung. Kalau dilihat dari pendekatan saintifiknya mungkin kita dapat memahami aspek prilaku sebelum kejadia ini terjadi, kita dapat meneliti dan mengamati sesungguhnya apa yang terjadi sehingga ini kok bisa merasa seperti ini.
        Pengetahuan yang dilakukan secara sistematis mengahasilkan hukum dan teori, ukum (laws) akan digunakan untuk menerangkan hubungan-hubungan yang teratur dan sudah dapat di duga. Sedangkan teori akan di pergunakan untuk menjelaskan hasil eksperimen atau data dan teori akan menjelaskan bagaimana penemuan mutakhir telah menghasilkan sesuatu.
        Kesimpulannya ialah bahwa teori mempunyai dua macam peranan. Pertama memberikan pemahaman yang merupakan tujuan penelitian ilmiah. Kedua, teori dapat merangsang penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan pengetahuan baru.[5]

BAB III
KESIMPULAN

Pendekatan antoposentris adalah pendekatan yang  memusat pada manusia. Setiap manusia memiliki dorongan-dorongan tersendiri untuk melakukan sesuatu.
Manusia bukan saja merupakan makhluk sosial, yaitu makhluk yang harus hidup dengan sesamanya dan selalu membutuhkan kerjasama dengan sesamanya, tetapi lebih dari itu manusia juga mempunyai kepekaan sosial. Kepekaan sosial berarti kemampuan untuk menyesuaikan tingkah laku dengan harapan dan pandangan orang lain. Contoh : Ada seorang yang merenung terdiam, kalau dilihat dari pendekatan antroposentriknya mungkin orang itu merasakan lapar, atau takut atau yang lain.
            Pendekatan fungsional  adalah pendekatan yang melihat bagaimana seseorang itu cara beradaptasi dengan lingkungannya. Contoh: Di dalam keluarga ada ayah, ibu, dan lima orang anak. Empat anak laki-laki dan satu anak perempuan, kebanyakan anak perempuan itu bertingkah laku seperti laki-laki karena pengaruh dari cara beradaptasi terhadap lingkungannya.
            Pendekatan saintifik adalah pendekatan dengan cara memahami aspek perilaku tertentu, dengan cara melakukan penelitian dan pengamatan. Contohnya: Ada seseorang yang terdiam dan merenung, dilihat dari pendekatan filosofisnya mungkin dia mempunyai gangguan pada jiwanya. Kalau dilihat dari pendekatan fisiologis mungkin dia sedang tidak enak badan. Kalau dilihat dari pendekatan antroposentrisnya mungkin dia dilihat dari naluri biologisnya  dia belum makan sehingga merasakan lapar dan lemas. Kalau dilihat dari pendekatanfungsional mungkin dia mengalami  masalah di rumah dengan keluarga sehingga tempat itu digunakan pelarian untuk merenung. Kalau dilihat dari pendekatan saintifiknya mungkin kita dapat memahami aspek prilaku sebelum kejadia ini terjadi, kita dapat meneliti dan mengamati sesungguhnya apa yang terjadi sehingga ini kok bisa merasa seperti ini.







KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul  “Konsep Jihat dalam Islam” tanpa suatu halangan yang berarti.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabiyullah Akhiruzzaman yang menjadi panutan dan suri tauladan bagi kita semua. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW, pemimpin umat manusia.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih penuh dengan kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak sangat kami harapkan.
Akhirnya kami memohon kepada Allah SWT agar kami selalu mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.





Surabaya, April 2012




Penulis



TUGAS PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI

Dosen :
Dra. Ragwan Albar, M.FiI.I



iain hiTAM PUTIH



B





Oleh :
Syifaul Ummah
(B73211080)


FAKULTAS DAKWAH
JURUSAN BIMBINGAN  KONSELING
IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2012

DAFTAR PUSTAKA

Davidoff, Linda L. Psikologi Suatu Pengantar. Erlangga: 1981.
Al Barry, M. Dahlan. 1994. Kamus Ilmiyah Populer. Yokyakarta:  Arkola.
Tarmuji. 2011. IAD-ISD-IBD, Surabaya: IAIN Sunan Ampel surabaya.
Wikipedia, “Fungsionalisme Struktural”, dari http:// id. Wikipedia. Org/wiki/Fungsionalisme Struktural, diakses pada tanggal 01 April 2012.
Davidoff, Linda L. Psikologi Suatu Pengantar edisi kedua. Erlangga: 1981.






[1] M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiyah Populer, (Yokyakarta: Arkola, 1994 ) hal: 38
[2] Drs.Tarmuji, M. Ag. Dkk, IAD-ISD-IBD, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel surabaya, 2011) hal: 6-8
[3] Linda L davidoff, Psikologi Suatu Pengantar. (Erlangga: 1981) hal: 176
[4] Wikipedia, “fungsionalisme Struktur”, diakses pada tanggal 01 April 2012 dalam http: // id. Wikipedia. Org/ wiki/ fungsionalisme- struktural.
[5] Linda L davidoff, Psikologi Suatu Pengantar edisi kedua. (Erlangga: 1981) hal: 38

Tuesday, June 19, 2012

Tugas Psikologi Individu Erma Ayu Septiani


Nafs Jiwa dalam Al- Qur’an
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah:
Psikologi

Dosen Pembimbing : Dra. Ragwan Albaar, M.Fil.I

Disusun Oleh:
Erma Ayu Septiani                           (B03211008)

FAKULTAS DAKWAH
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM/C1
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2012
Nafs jiwa dalam Al-Qur’an

Kata nafs dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa makna, sekali di artikan sebagai totalitas manusia, yang  terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku.[1] Nafsu adalah suatu keinginan yang harus dipenuhi. Nafsu sering berkonotasi negatif seperti bernafsu besar dan lain sebagainya.
Dalam pandangan Al-Qur’an, nafs diciptakan Allah swt. Dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Al-Qur’an menganjurkan untuk memberi perhatian lebih besar, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah Swt.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾

Demi nafs serta penyempurna ciptaannya, Allah telah mengilhamkan kepadanya kebaikan dan ketakwaan.(QS.As-Syams[91]: 7-8)
Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Untuk itulah titik tolak dari keshatan jiwa atau kepuasan diri adalah membenci hawa nafsu. Berkatalah ibn abbas,
“ sumber dari maksiat, nafsu birahi, dan kelalaian adalah kesenangan pada hawa nafsu. Sedangkan sumber dari ketaatan , keterjagaan, dan pengekangan diri dari hal yang hina adalah membenci hawa nafsu. Bagimu berteman dengan orang bodoh yang membenci hawa nafsu lebih baik ketimbang berteman dengan orang pandai yang menyukai hawa nafsunya,.”
Bahwa kualitas jiwa juga bergantung kepada kualitas fisik, terutama otak. Jika kualitas fisik dan otak mengalami gangguan, maka jiwa juga akan mengalami gangguan. Kerusakan pada otak menimbulkan kerusakan pada jiwa.[2]
Dalam jiwa manusia terdapat potensi keagamaan secara fitrah yang berasal dari Allah. Akan tetapi potensi itu tidak akan bisa muncul apabila di biarkan begitu saja tanpa adanya usaha untuk mengembaklikan fitrah itu dengan jalan membersihkannya, yaitu dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh pencerahan dan bimbinganNya.[3]
Tingkatan  nafsu dalam Al-Qur’an dapat di jelaskan sebagai berikut:
1.      Nafsu Ammarah Bissu’
Nafsu ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syaitan. adalah ciri khas nafs ammarah bahwa ia membawa manusia kepada keburukan yang bertentangan dengan kesempurnaannya serta bertolak belakang dari keadaan akhlaknya dan ia menginginkan manusia supaya berjalan pada jalan yang tidak baik dan buruk.

Dengan ciri- ciri:
-nafsu itu selalu menyuruh/ mengajak kepada kejahatan(amarah bissu’)
-dan banyak sekali manusia yang menjadikan nafsunya sebagai illah
-manusia yang seperti itu lebih sesat daripada binatang yang hanya punya nafsu saja, karena mereka tidak mau menggunakan indera dan akalnya.
-oleh karena itu jangan mengikuti nafsu tanpa ilmu pengetahuan, karena hendak menyimpang dari kebenaran.
2.      Nafsu Lawwamah
Nafsu ini tidak/belum sempurna ketenangannya karena selalu menentng atau melawan kejahatan tetapi suatu saat teledor dan lalai berbakti kepada Allah, sehingga di cela dan di sesalinya.[4]
Allah berfirman:
75_2.png
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri). (Q.S.al-Qiyamah[75]: 2)
Jiwa yang mendapat cahaya hati sehinngga bisa tersadar dari kelalaian yang telah di perbuatnya, setelah tersadar ia senantiasa akan melakukan amal kebaikan, jika ia berbuat kejahatan maka hal itu di sebabkan karena perangainya yang berasal dari kegelapan namun bila ia telah mendapatka nur dari Allah maka ia segera akan menyesalinya serta bertobat dari kejahatan yang telah di perbuatnya dengan mengucap istighfar serta meminta ampunan-Nya, sehingga ia kembali kepada Tuhannya Maha Penganmpun.
Ringkasnya, nafs ini merupakan keadaan akhlaki bagi jiwa di mana di dalam dirinya telah terdapat  akhlak fadhilah (budi pekerti luhur) dan dia sudah jera dari kedurhakaan, akan tetapi belum lagi dapat menguasai diri sepenuhnya.

3.      Nafsu Muthmainnah
Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari kegoncangan yang di sebabkan oleh bermacam- macam tantangan dan dari bisikan syetan. Di katakan juga jiwa yang tenang
Jiwa yang telah menerima pencerahan, ketenangan dan kedmaian,sebab telah terlepas dari pengaruh hawa nafsu materi, hewani, dan kemakhlukan[5].
Dengan jiwa/ nafsu yang tenang manusia akan kembali kepada-Nya dengan puas diridhoi-Nya.
Orang yang sempurna imannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya maka surgalah tempat tinggalnya, seperti firman Allah:


79_41.png79_40.png

“Adapun orang yang merasa takut kepada kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari memperturutkan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga itulah tempat tinggalnya.” (QS. an-Nazi’at: 40-41)
Dia laksana air mengalir dari atas ke bawah yang karena banyaknya dan tiada sesuatu yang menghambatnya, maka air itu terjun dengan deras, begitu pula jiwa manusia tak henti hentinya mengalir terus dan menjurus ke arah Tuhan. Ke arah inilah Allah Ta’ala mengisyaratkan, “Hai jiwa yang mendapat ketenteraman dari Tu¬han! Kembalilah kepada-Nya!”



Kesimpulan

Nafsu adalah suatu keinginan yang harus dipenuhi. Nafsu sering berkonotasi negatif seperti bernafsu besar dan lain sebagainya. Dalam pandangan Al-Qur’an, nafs diciptakan Allah swt. Dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan.
Tingkatan nafsu ada tiga yakni nafsu ammarah bissu’(diri yang buruk), lawwamah (diri yang menyesal), nafsu muthmainah(diri yang tenang), yang masing- masing mempunyai kriteria sendiri.
Dengan demikian Al-Qur’an memberikan penjelasan, bahwa sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya dari sifat- sifat yang tidak baik agar tidak di ombang- ambingkan oleh sifat- sifat tersebut, sehingga menjadi diri yang muthmainnah. Diri yang muthmainnah adalah diri yang selalu mendapatkan ilham ketaqwan yang mendorong kepada perbuatan baik.
kualitas jiwa juga bergantung kepada kualitas fisik, terutama otak. Jika kualitas fisik dan otak mengalami gangguan, maka jiwa juga akan mengalami gangguan. Kerusakan pada otak menimbulkan kerusakan pada jiwa


Daftar Pustaka

Adz- Dzakiey Hamdani Bakran, 2006, Psikologi Kenabian Memahami Eksistensi Jiwa Nafs , Yogyakarta: Daristy.

Jumantoro Totok, 2001, Psikologi Dakwah, Surabaya: AMZAH.

Mustofa Agus, Menyelam Ke Samudra Ruh dan Jiwa, Surabaya: PADAMA PRESS.

Sangkar Abu, 2006, Berguru Kepada Allah, Jakarta Selatan: Yayasan Sholat Khusyu’.

Sururin, 2011, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




[1] Hamdani Bakran adz- Dzakiey, Psikologi Kenabian Memahami Eksistensi Jiwa (Nafs) ,( Yogyakarta: Daristy, 2006), hal.2
[2] Agus Mustofa, Menyelam ke Samudra Jiwa dan Ruh,( Surabaya: PADAMA PRESS), hal.
[3] Sururin, Ilmu Jiwa Agama,(jakarta: PT  Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 65
[4] Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah, (Surabaya: AMZAH, 2001), hal. 7
[5] Ibid, hal. 10